MENCARI UJUNG INTERNET

Posted on Updated on

Internet saat ini telah menjadi kebutuhan primer bagi sebagian orang di dunia, dari sekedar berkirim e-mail hingga jual-beli barang seperti Bhinneka.Com.  Bahkan saat ini anak SD telah mengenal internet, jika dibandingkan saat saya SD pastilah terlalu jauh. Saat saya masih sekolah dahulu (SD-SMA) saya tidak tahu apa itu internet, terbayang wujudnya pun tidak. Ketika menduduki bangku kuliah di semester tiga lah, saya berkenalan dengan internet terutama layanan e-mail.

Masih teringat cukup jelas waktu saya membuat sebuah akun e-mail di Eudoramail.  Terasa membanggakan saat itu saya memiliki aku e-mail.  Sejak saat itu saya mulai berani untuk menjelajah dan memasuki hutan rimba maya.  Situs-situs gaul untuk remaja atau anak kuliahan, seperti saya waktu itu, cukup sering dikunjungi.  Apalagi saat saya sudah mengenal apa itu Chatting.  Sungguh menyenangkan saat bisa menyapa “ASL PLS” dan mendapat balasan dari teman chat.  Namun tidak semua situs di internet itu baik.  Saat-saat tersesat pun pernah saya alami di rimba internet, masuk kedalam situs “Hitam dan Gelap” atau saat ini dikenal dengan “XXX”.

Setelah menyelami dunia internet berbulan-bulan lamanya, sampai pada akhirnya di titik tertinggi ilmu perinternetan, saya akhirnya memutuskan untuk membuat situs kecil-kecilan.  Motto saya saat itu “Lebih baik menjadi pemain daripda menjadi penonton”.  Sehingga pikiran saya saat itu hanya tertuju pada bahasa HTML dan JAVASCRIPT, serta bagaimana caranya hosting gratis untuk memajang sebuah website sederhana.  Cara termudah untuk bisa membuat sebuah web dapat saya peroleh dengan melihat source dari sebuah halaman web, kemudian saya bongkar satu persatu tag-tag HTML yang ada.  Hal yang sangat menggiurkan waktu itu adalah animasi Javascript yang membuat iri pembaca.  Jadilah saya berburu berbagai macam script java.  Sampai-sampai saai itu saya bukannya membeli buku textbook kuliah, namun saya membeli buku tentang HTML, Javascript, CSS, bahkan XML.  Jerih payah saya saat itu pun menuai hasil, ketika itu saya membuat akun di Geocities untuk memampang situs buatan sendiri.  Ya, sebuah situs berbasis HTML dengan sedikit animasi Javascript walaupun hanya 4 halaman, namun itu adalah sebuah pencapaian terbesar bagi saya, dari seorang penonton menjadi seorang pemain.

Internet telah membuka mata saya bahwa dunia ini hanya selebar monitor dan sedekat papan ketik.  Seiring dengan berjalannya waktu internet telah merasuki jiwa saya dan telah menjadi bagian hidup yang tidak terpisahkan.  Hal ini terjadi setelah saya bekerja di sebuah Lembaga Penelitian milik Pemerintah.  Internet tak ubahnya santapan sehari-hari, jika koneksi internet terputus maka diri ini secara otomatis menggerutu tak ubahnya seperti orang yang kehilangan selembar uang seratus ribu.  Koneksi internet bagi saya saat ini bagaikan aliran darah yang mengalir ditubuh ini.  Jika sedang tidak didepan komputer untuk sekedar membaca e-mail atau jalan-jalan di mall maya, saya menggunakan perangkat telepon genggam atau telepon pintar milik saya untuk menghirup bit demi bit data internet. E-mail bagi saya saat ini ibarat nyawa pekerjaan, bagaimana tidak kebanyakan pekerjaan saya diselesaikan menggunakan e-mail untuk berkirim dokumen.

Seiring perkembangan internet yang begitu cepat serta banyak bermunculan situs jejaring sosial, maka akses internet yang tadinya hanya sekedar untuk keperluan pekerjaan dan rutinitas kantor, saat ini telah menjadi bagian hidup saya.  Bagaimana tidak, daya tarik mereka sangatlah kuat bahkan terkadang disaat bosan, saya kerap memainkan telepon pintar saya untuk masuk ke jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Candu, itulah gambaran saya terhadap internet, sekali kenal maka sungkan untuk melupakannya.  Namun itulah gaya hidup, sampai sampai ada orang yang dianggap kuno karena tidak tahu apa itu Facebook dan Twitter.  Hari geneee…. begitu kata orang.

Jika dicermati, banyak manfaat dari adanya internet yang telah menjadi bagian dari gaya hidup saya. memudahkan, itulah istilah saya untuk internet yang sudah menjadi bagian hidup sehari-hari. Internet memudahkan saya untuk mencari segala hal yang sekiranya saya tidak mengerti, bahkan saya bisa bersilaturahmi kembali dengan saudara dan bahkan teman lama yang sudah puluhan tahu tidak diketahui kabarnya.  Belanja juga semakin mudah dengan adanya belanja online seperti di BHINNEKA.COM.  Berita terbarupun sudah diterima saat gadget terhubung dengan internet, ya sangat cepat dan hanya dalam hitungan detik.  Internet akan semakin menjadi bagian tak terpisahkan manusia saat ini jika saja tarifnya kian murah.

Saya saat ini belum bisa membayangkan bagaimana internet setelah 20 tahun kemudian.  Bayangan saya sangat sederhana, saya dirumah hanya membutuhkan perangkat kecil dan terhubung internet nirkabel yang berkecepatan sangat tinggi.  Saya pun menghubungi rekan kerja yang sedang berada di nun jauh disana dan sedang berada di tengah lautan hanya sekedar memberikan tanda tangan persetujuan bisnis dari depan monitor dan saat itu juga dokumen langsung diterima. Atau hanya untuk sekedar tahu harga cabai dan stoknya di toko terdekat, saya cukup mengklik beberapa kali atau langsung melakukan transaksi pembelian dan cabai pun terkirim kerumah “gak pake lama”.  Yang pasti keinginan terberat yang saya pikirkan adalah bagaimana cara mengintegrasikan semua sistem birokrasi di Indonesia kedalam aplikasi berbasis internet yang setiap saat orang bisa memperbaharui datanya masing-masing dan langsung berdampak disemua sektor.

Tidak selamanya yang memudahkan itu juga menyenangkan, internet juga rentan terhadap kejahatan.  Bisa saja data saya dibajak saat terhubung dengan internet, serta penyalahgunaan privasi yang akhir-akhir ini marak, dan mungkin suatu saat nanti ada yang bisa mencuri data DNA seseorang yang sedang mendengarkan musik dijital di jaringan internet.  Menurut opini saya, menjaga privasi dan aware terhadap bahaya harus selau diterapkan, terutama untuk anak-anak dibawah umur harus selalu didampingi oleh orang tua.

Akhir kata, saya hanya ingin tahu dimanakah ujung dari internet itu?

Bhinneka.Com

6 thoughts on “MENCARI UJUNG INTERNET

    indobrad said:
    Rabu, 16 Februari 2011 pukul 04:34

    wah mantap. ikutan lomba ya. semoga sukses ya bro😀

    Suka

    Anugrha13 said:
    Rabu, 16 Februari 2011 pukul 09:06

    mantabs bahasanya ” koneksi internet seperti aliran darah yang mengalir dalam tubuh”
    setuju sekali mas…
    rasa nya seperti sayur tanpa garam , jika hidup tak ada internet…xixixi

    Suka

    mamung said:
    Rabu, 16 Februari 2011 pukul 09:32

    ujungnya ada di ambon bang..😀

    Suka

    Dewi said:
    Rabu, 16 Februari 2011 pukul 11:40

    Mmm ga percuma begadang semalamnya…like this mas…jempol 10 dech he he he
    Lanjutkan ngeBlog…;-)

    Suka

    noell_vb said:
    Sabtu, 19 Februari 2011 pukul 15:19

    numpang lewat tengok agan…semoga kabar baik selalu

    Suka

    zee said:
    Selasa, 22 Februari 2011 pukul 10:19

    Kalau beberapa puluh tahun lagi, mungkin internet di Indonesia sudah kayak di luar negeri, sudah integrated dengan layanan lainnya, sudah normal dan lumrah, bahkan di rumah sederhana pun punya internet. Itu sih bayangan saya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s