Ambon dan Listrik

Posted on Updated on

Setelah kembali dari migrasi di Lombok ke tempat hidup asal yaitu Ambon, tepatnya di belakang kantor UPT BKBL LIPI, saya semakin hari semakin senewen. Apa sebab? Pasalnya, walaupun tahun sudah berganti baru, dari 2008 menjadi 2009, tetap saja LISTRIK bermasalah dan semakin parah nyalanya.

Entah mengapa pasokan listrik menjadi tidak stabil, setelah 2 bulan meninggalkan komputer local server yang menjadi penampung data di kantor bukannya data semakin bertambah eh… malah power supply-nya jebol. Untung saja server internet selamat….

Setelah menikmati beberapa hari di Ambon, terasa sudah penderitaan mati lampu gara-gara listrik ogah mengalir melalui jala-jala listrik. Seolah telah menjadi kewajiban tiap hari kalau listrik harus padam berulang-ulang dalam satu hari. Coba bayangkan dalam satu hari listrik di daerah kantor UPT Balai Konservasi Biota Laut LIPI Ambon bisa padam sampai lima kali, bahkan pada tahun 2008 bisa mencapai 8 kali. Masih wajar kalau padam hanya 30 menit hingga satu jam, nah kalau yang disini bisa lebih dari 2 jam. Pernah juga listrik padam dari pukul 9 pagi sampai pukul 9 malam, payahhhh….!!!!

Tidak terbayangkan kalau disaat sedang banyak pekerjaan di laboratorium yang mengandalkan pasokan listrik, tiba-tiba tanpa ada kabar-kabari dari yang berwenang, listrik padam, menghilang dari kawat-kawat bajanya. Gampang kok.. di ulang saja penelitiannya! Nah kata-kata itu pasti mudah diucapkan, namun untuk mengambil sampel penelitian tidak segampang dan semurah itu…. emangnya senyum? udah murah gampang lagi… . Kalau sampel yang harus diambil berada di Laut Pasifik sana berapa biayanya???

Perlu dipikirkan oleh para pejabat yang duduk manis di kursi panas, yang katanya Wakil Rakyat (apa iya pro rakyat???), bagaimana cara untuk menjaga pasokan listrik agar tidak berkedip-kedip tiap hari seperti orang kelilipan. Perlu juga sumber-sumber energi alternatif dijajaki, apakah menguntungkan rakyat atau tidak (maksudnya mahal atau murah). Banyak sumber energi alternatif yang bisa dimanfaatkan seperti energi surya, energi angin, maupun energi gelombang laut untuk daerah seperti di Pulau Ambon.

Diperlukan niat yang konsisten dari para pejabat di daerah untuk membangun kawasannya. Bukan hanya janji-janji politik yang membodohi rakyat yang buta huruf maupun rakyat miskin, yang hanya berpikir bagaimana bisa hidup dan makan. Jalin kerjasama dengan lembaga-lembaga penelitian serta perguruan tinggi untuk mengkaji mengenai potensi energi alternatif. Kemudian buat MOU untuk mengadopsi teknologinya (teknologi memang mahal dan harus dihargai). Pasang di tempat-tempat yang memang cocok wilayahnya dengan sumber energi alternatif itu. Buat kawasan percontohan untuk skala terbatas, apabila memang menjanjikan perluas kawasan menjadi 3-4 kali.

Jika ingin mengoptimalkan biaya agar menjadi lebih murah demi kesejahteraan rakyat, sebaiknya gunakan produk dalam negeri yang sudah ber-SNI (artinya cari sendiri). Yang terpenting jangan di korupsi. Itu saja.

2 thoughts on “Ambon dan Listrik

    Indra Kurniawan said:
    Jumat, 6 Februari 2009 pukul 11:37

    Ambon mati listrik ya? payah tuh PLN…

    padahal sudah dimonopoli dan subsidi pemerintah!

    harus sadar donk… zaman sudah maju… persaingan bisnis terbuka akan menanti kalau BUMN seperti ini tidak mampu menyediakan layanan publik dengan kualitas yang baik

    mendingan di-oper aja ke pihak swasta…

    Suka

    Dharma responded:
    Jumat, 6 Februari 2009 pukul 13:58

    @ Indra
    Iya nih isunya sampai bulan April masih ada pemadaman.
    Gimana lagi wong mesinnya sudah tua ya jadi begini.
    Coba seperti telepon seluler, kalau mahal buang kartunya ganti yang laen, lha ini yang mau dibuang apanya ya…???

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s